Sunday, March 16, 2014

Menjadi Pengusaha

PELAKU UKM - Pengusaha. Ada yang bilang menjadi pengusaha itu adalah bakat dari orang tua. Hmm… Mungkin masuk akal, karena memang lazimnya seorang anak dari seorang pengusaha biasanya akan meneruskan usaha orang tuanya. Tapi saya pribadi menolak pendapat itu. Menurut saya pengusaha itu terbentuk–oleh lingkungan. Bukan dilahirkan. Tidak pernah saya dengar ada yang bilang “Telah lahir pengusaha muda di RS Anu dengan berat badan sekian, panjang sekian, dan kelak akan menjadi pengusaha kayu terbesar di Indonesia”. Pernah dengar yang seperti itu? Saya yakin tidak.
Kelas-kelas manusia-manusia dalam mencari penghasilan saya bagi menjadi 3 kategori. Pertama, orang yang menetap bekerja pada orang lain atau sebuah perusahaan. Orang tipikal ini adalah orang-orang yang dibayar secara periodik oleh perorangan atau perusahaan yang memanfaatkan tenaga mereka. Sekilas orang-orang ini menempati “posisi aman”. Mereka secara rutin sudah memiliki jam kerja mereka sendiri, juga secara otomatis memiliki income tetap. Terlepas mereka adalah karyawan rendah, manager, direktur. Mereka adalah pekerja.
Kedua, orang yang tidak punya pekerjaan tetap. Percaya atau tidak, kategori ini adalah jumlah mayoritas dari keseluruhan jumlah masyarakat di Indonesia. Mereka bekerja serabutan, dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu bidang kerja ke bidang kerja lainnya. Ini bukan hal mudah tentunya, karena mereka dituntut untuk memiliki keterampilan dalam banyak hal.
Ketiga, para pengusaha. Orang-orang ini yang menurut saya adalah orang-orang tangguh yang menyanggupi untuk menanggung resiko. Pada dasarnya mereka bisa saja berawal sebagai karyawan, bisa juga sebagai pekerja serabutan. Bedanya, para pengusaha ini mampu melihat peluang dan memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya.

pengusaha

Jadi pengusaha itu adalah sebuah pilihan diantara beberapa pilihan dalam mencari penghasilan. Seperti kebanyakan orang Indonesia, opsi pertama untuk mendapatkan penghasilan adalah dengan bekerja pada orang lain atau sebuah perusahaan yang mampu memberi mereka gaji, baik harian, mingguan atau bulanan. Apapun, asalkan mereka mendapatkan penghasilan atas apa yang dikerjakan. Jika pilihan tersebut meleset akhirnya mereka menjadi pekerja serabutan. Opsinya pendek.
Berbeda dengan pengusaha. Meski mungkin awalnya mereka memulai karir mereka sebagai pekerja, namun mereka tidak pernah sedikitpun ingin menjadi pekerja. Itu sama sekali bukan tujuan akhir mereka. Tujuan akhir mereka adalah sejauh mimpi mereka. Tujuan akhir mereka selalu semakin jauh ketika satu tujuan telah tercapai. Artinya mereka tidak pernah merasa puas atas pencapaian yang mereka peroleh.
Well.. Anda termasuk yang mana nih?

Saturday, March 15, 2014

Kedelai Lokal Vs Kedelai Impor

Kedelai lokal
PELAKU UKM - Kedelai Lokal. Kedelai merupakan tanaman jenis kacang yang sangat vital pada industri tahu, tempe, kecap, serta bahan olahan kedelai lainnya. Di Indonesia, tanaman ini banyak tumbuh dan relatif cukup mudah didapat, namun anehnya masyarakat lokal justru lebih memilih kedelai impor. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh harga kedelai impor yang relatif lebih murah dan pasokannya juga lebih mencukupi ketimbang kedelai lokal.
Sebenarnya kegiatan impor memang perlu, dan tidak bisa dihentikan begitu saja. Semua mempunya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagi produsen tempe, kedelai impor lebih disukai, karena menghasilkan volume tempe yang lebih besar, sehngga dinilai lebih menguntungkan. Tapi sebaliknya, produsen tahu lebih memilih kedelai lokal, dengan alasan volume tahu yang dihasilkan kedelai lokal lebih tinggi ketimbang kedelai impor. Jadi jika melihat alasan tadi, sebenarnya impor juga masih sngat diperlukan, tanpa harus mengesampingkan produksi kedelai lokal. Hanya saja besar kemungkinan oknum pemerintah ini terus menerus mengijinkan impor demi “amplop” dari para importir. Mungkin..
Meski masyarakat sedang gandrung komoditi impor, terutama disini adalah kedelai, sedikit yang mengetahui bahwa kebutuhan kedelai nasional saat ini (2013) mencapai 2,2 juta ton pertahun—sumber dari Badan Pusak Statistik—sedangkan angka impor hanya sekitar 1,3 juta ton pertahun. Dengan hasil produksi kedelai nasional sebesar 850 ribu ton pertahun, jelas pangsa pasar budidaya kedeai ini masih sangat besar. Terlebih saat ini harga kedelai impor lebih tinggi dibanding kedelai lokal. Yang tadinya kedelai impor dijual Rp.3.000/kg, saat ini harga kedelai impor bisa mencapai Rp.8.000/kg. Hmmm… Selisih yang menarik bukan?
Kedelai di ikilim tropis memang tidak bisa tumbuh sebaik di negara-negara empat musim, karena umumnya negara-negara ini mempunyai panjang hari hingga 17 jam. Produksi yang bagus itu menyebabkan harga kedelai impor lebih murah dari kedelai lokal. Namun dengan kondisi Dolar yang berada di angka Rp.11.000/dolar, harga kedelai impor juga otomatis ikut melambung. Baiknya, kekurangan pasokan kedelai impor ini diimbangi dengan peningkatan produksi kedelai lokal.

Kebutuhan lahan budidaya kedelai seluas 1,3 juta hektar sebenarnya bisa di penuhi di Pulau Jawa saja, namun dari sekian banyak lahan yang bisa dimanfaatkan, kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa petani lebih suka menanam padi daripada kedelai. Karenanya dibutuhkan metode khusus untuk menanam kedelai di lahan yang seadanya.
Beberapa teknik penanaman kedelai nanti akan saya bahas di artikel selanjutnya. Sabar ya.

Sayuran Jepang


PELAKU UKM - Sayuran Jepang. Sayuran Jepang merupakan jenis sayur-sayuran yang memang berasal dari Jepang, namun sejak beberapa waktu kebelakang, peminatnya di Indonesia semakin bertambah seiring dengan semakin maraknya resto yang menyajikan menu masakan Jepang. Ditambah lagi banyak orang-orang Jepang serta Korea yang bermukim di Indonesia yang ingin merasakan masakan khas negaranya.

Jenis sayuran Jepang yang dibudidaya di Indonesia sangat variatif. Mulai dari Bayam Jepang, Terong Jepang, Lobak Jepang, Timun Jepang, Labu Jepang, Toge Jepang, Bawang Daun, Kabcha, Sawi Jepang, dll. Semuanya bisa ditanam di iklim Indonesia. Namun tingkat kebutuhan pasar jelas berbeda pada setiap varian. Berdasarkan permintaan pasar, biasanya permintaan dibagi menjadi 2 musim. Pada musim hujan, umumnya masyarakat lebih menyukai jenis sayuran dau, dan pada musim kemarau/panas, masyarakat lebih banyak menyukai sayuran umbi, seperti lobak dan lainnya.

Jenis sayuran ini sebenarnya sangat berpoteni untuk kebutuhan ekspor, namun karena belum banyak pelaku usaha yang mampu memenuhi permintaan secara rutin dalam jumlah banyak. Kondisi ini otmatis menciptakan peluang bagi para pelaku usaha, karena persaingan belum begitu ketat. Terlebih sayuran jenis ini termasuk jenis sayuran yang berkualitas baik secara rasa maupun ketahanan, sehingga bisa membidik pasar kalangan atas yang memiliki daya beli tinggi. Terbukti hingga saat ini banyak sekali pelaku usaha yang membidangi sektor ini kewalahan memenuhi permintaan pasar. Karena belum banyak persaingan, maka produsen sayuran bisa menentukan harga sendiri, dan harganya pun tidak fluktuatif.

Harga sayuran Jepang ini bisa mencapai 3-5 kali lipat harga sayuran lokal. Kalaupun ada naik-turun harga, tetap saja masih lebih tinggi daripada ongkos produksi. Namun untuk menghasilkan produk berkualitas serta kontinyu, maka disarankan untuk membangun jaringan mitra atau membuat inti plasma agar kegiatan agribisnis bisa terus beroperasi.

Pada umumnya, karakter sayuran Jepang sama dengan sayuran untuk menu khas Eropa dan Amerika. Bisa hidup di dataran tinggi juga di dataran rendah. Untuk tanaman jenis umbi misalnya, lebih cocok ditanah di dataran tinggi dengan ketinggian minimal 800 mdpl, sedangkan sayuran lebih cocok ditanam di dataran dengan ketinggian antara 300-700 mdpl.

Untuk jenis tanaman sayuran sebenarnya sudah diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada tahun 1600-an. Jenis tanaman sayuran hingga saat ini sudah menjadi kultur masyarakat pegunungan untuk memenuhi permintaan dari masyarakat perkotaan. Hanya saja untuk masyarakat dan restoran Jepang pada khususnya menuntut kualitas lebih tinggi dari rata-rata, sehingga tidak semua petani mampu memenuhinya.

Sayuran Jepang saat ini lebih banyak dipasarkan untuk memenuhi permintaan resto dan swalayan khas Jepang, namun bisa juga dilempar untuk pasar umum. Untuk memperluas pemasaran sebaiknya pelaku usaha sering mengikuti pameran agribisnis atau menjalin hubungan dengan Dinas Pertanian, atau juga dengan menggunakan media internet.

Dalam pengiriman, jika pelaku usaha tidak memiliki mobil pengangkut yang dilengkapi cold storage, bisa disiati dengan melakukan pengiriman pada malam hari. Bisa juga dengan menggunakan styrofoam yang berisi es batu, sehingga sayuran tetap segar. Hal ini karena sayuran akan cepat layu pada suhu biasa. Bagi pemula, ada baiknya untu memulai sebagai supplier agar bisa memilii jaringan serta memahami betul seluk beluk produksi serta celah pasar, baru kemudian terjun sebagai produsen.

Namun, dengan segala potensi yang dimiliki sektor sayuran Jepang ini, kendala penyediaan benih serta SDM masih menjadi masalah. Benih hingga saat ini masih didatangkan langsung dari Jepang, dan harganya mahal. Untuk hal ini sekarang sedang diupayakan untuk pembibitan sendiri. sedangkan mengenai SDM, karena saat ini memang dunia pertanian kurang diminati oleh generasi muda. Hahaha… Kendaa terakhir nampaknya menjadi kendala klasik. “Kamu kalo sudah besar jangan jadi seperti Bapak ya (petani)”. Padahal menjadi petani sekarang ini sangat berpeluang melahirkan orang-orang sukses..

So.. Berminat? Omset hingga ratusan juta dengan asumsi keuntungan mencapai 40% dalam setahun bisa anda raih diidang ini..


Tuesday, September 10, 2013

Pelaku Usaha Furniture

Berikut ini direktori pelaku usaha furniture yang kami terima. Anda ingin mencantumkan usaha Anda di sini? Silahkan kirim data lengkap usaha Anda. Kami tidak memungut biaya apapun atas pemuatan informasi usaha Anda.

UD ISTIANA MEUBEL
Jl. Taman Siswa Pekalongan
Jepara
Tlp : 0821 3366 5537
Email : isty100@yahoo.co.id

GUDANG MEBEL JEPARA
Jl. Randulawang RT 01/02
Kelurahan Jetis
Kecamatan Sukoharjo (Barat Alun-alun Sukoharjo), Solo
Surakarta
Tlp : 0856 4204 3977, 0818 0252 9378, 0853 2783 9977
Pin Blackberry : 230961C8
Email : gudangmebel@gmail.com

BALI ARTI KREASINDO
Jl. Taman Ambengan 2X
Jimbaran
Denpasar - Bali
Telp : 0877 6113 3919
Email : pupar73@yahoo.com

Mau usaha anda juga dicantumkan di halaman ini? Silahkan isi form ini.

Monday, September 9, 2013

Pelaku Usaha Pelengkap Makanan

BUSUSAN INDO GLOBAL
Jl. Tukad Yeh Biu
Gg. Bumi Nyiur no. 29
Sesetan
Denpasar
Telp : 0813 5308 8343 (Yayak Eko Cahyanto)
Web : www.sambelbususan.com


Facebook : Sambelbususan
Twitter : @sambelbususan
Email : sambelbususan@gmail.com

Mau usaha anda juga dicantumkan di halaman ini? Silahkan isi form ini.

Tuesday, September 3, 2013

Pelaku Usaha Ternak ULAT SUTRA

ulat sutra
Berikut ini direktori pelaku usaha ternak ulat sutra yang kami terima. Anda ingin mencantumkan usaha Anda di sini? Silahkan kirim data lengkap usaha Anda. Kami tidak memungut biaya apapun atas pemuatan informasi usaha Anda.



PARGIYANTO
Dusun Mojolegi Rt 03, Karangtengah
Imogiri, Bantul
Yogyakarta
Telp : 0813 2800 3052, (0274) 889219

DEDI AGUS WRANTORO
Wisata Ilmu Ulat Sutra Bandung
Padepokan Dayang Sumbi
Jl. Arcamanik Sindanglaya Km 4
Bandung Timur
Email : padepokandayangsumi@gmail.com
Telp : (022) 3017 1075, 0815 6020 902

Mau usaha anda juga dicantumkan di halaman ini? Silahkan isi form ini.

Pelaku Usaha Ternak AYAM KAMPUNG

ayam kampung
Berikut ini direktori pelaku usaha tani ternak ayam kampung yang kami terima. Anda ingin mencantumkan usaha Anda di sini? Silahkan kirim data lengkap usaha Anda. Kami tidak memungut biaya apapun atas pemuatan informasi usaha Anda.

SUWARNO FARM
Kp. Rawa Asli Rt03/14 Telaga Murni
Cikarang Barat, Bekasi
Jawa Barat
Email : suwarno.puji@yahoo.com

RAFLI DANU FARM
Jl. Bumi Perkemahan Kepurun
Tegalringin Rt 09/04 Sapen
Manisreggo, Klaten
Jawa Tengah
Web : www.jack-jogja.blogspot.com

MULYONO
Jl. Ring Road Utara Km 7
Nanggulan 22 Rt 14/19
Maguwoharjo, Depok
Sleman
Yogyakarta

Mau usaha anda juga dicantumkan di halaman ini? Silahkan isi form ini.